Kebaikan yang Tidak Berhenti di Saya

Malam itu sebenarnya biasa saja. Saya sedang berjalan kaki di area yang memang sering saya lewati. Tidak ada rencana khusus. Tidak juga niat bertemu siapa pun. Tapi di tengah jalan, saya bertemu seorang anak, sebut saja inisialnya RB.

Sekilas Tentang RB

RB adalah anak pesantren. Latar belakang pendidikannya sederhana. Orang tuanya berdagang kecil-kecilan, dan saat itu sedang mengalami masalah kesehatan sehingga tidak bisa bekerja dengan normal.

RB datang ke Jakarta dengan harapan mendapatkan bantuan. Informasi yang ia miliki berasal dari media sosial. Saya tidak menggali ceritanya terlalu dalam. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena saya tidak ingin masuk terlalu jauh ke urusan pribadi orang.

Pertemuan di Jalan

Saat bertemu, RB memakai peci. Di tengah perjalanan, ia mengaku takut anjing dan meminta saya berjalan di depan. Saya membantu sebisanya, lalu kami berjalan bersama.

Sambil berjalan, ia berkata bahwa ia lapar dan ingin pulang ke daerah Citayem. Waktu sudah menunjukkan sekitar jam 21 malam. Dengan kondisi seperti itu, rasanya tidak mungkin ia pulang sendiri.

Uang Pas-pasan, Tapi Hati Tergerak

Saya sendiri tidak sedang punya banyak uang. Kondisi keuangan saya pas-pasan. Namun, ketika ia berkata lapar, hati saya tergerak.

Saya membelikan RB makan dan minum sederhana. Awalnya saya berniat berbagi, tetapi akhirnya semua saya berikan kepadanya. Karena sudah malam, saya juga membayarkan ojek online agar ia bisa pulang dengan aman.

Sebelum berangkat, saya sempat menasihatinya dengan tenang agar ke depannya lebih berhati-hati dan tidak nekat datang sendirian tanpa persiapan.

Rasa Kehilangan dan Proses Mengikhlaskan

Setelah semua selesai, jujur saja, ada rasa berat di hati. Bukan karena menolong, tetapi karena apa yang saya keluarkan cukup berarti bagi kondisi saya saat itu.

Namun pelan-pelan, saya mencoba melihatnya dari sudut pandang Tuhan. Saya teringat firman yang maknanya kurang lebih seperti ini:

Ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan. Ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum.

Saya tidak ingat persis ayat dan pasalnya. Tetapi saya ingat pesannya. Apa yang kita lakukan kepada orang yang membutuhkan, itu sama seperti kita melakukannya kepada Tuhan.

Belajar Legowo

Di situ hati saya mulai tenang. Saya belajar bahwa kebaikan tidak selalu terasa ringan. Kadang ada rasa kehilangan lebih dulu, sebelum muncul kelegaan.

Saya tidak berharap apa yang saya keluarkan malam itu kembali kepada saya. Bukan uangnya. Bukan juga bentuk balasan apa pun.

Harapan saya sederhana: semoga kebaikan itu tidak berhenti di saya. Suatu hari, ketika RB memiliki sesuatu, dan ia melihat orang lain yang membutuhkan, ia juga tergerak untuk melakukan hal yang sama.

Kalau kebaikan bisa menular, mungkin begitulah caranya bekerja. Dari satu orang ke orang lain. Dari satu pertemuan singkat ke keputusan kecil berikutnya.

Saya tidak tahu bagaimana kelanjutan hidup RB. Pertemuan itu singkat, tetapi pelajarannya tinggal lebih lama.

Malam itu saya pulang dengan uang berkurang, tetapi dengan keyakinan bahwa kebaikan, sekali dilepaskan, tidak pernah benar-benar hilang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Training Drills Top Eleven per Posisi

Tokopedia.com - Solusi Belanja Cepat dan Hemat untuk Kebutuhan Sehari-hari Anda

Mengapa Saya Memutuskan Tidak Menjadi Platinum Buyer di Tokopedia