Jalan Kaki sebagai Hobi: Ruang Sunyi untuk Merenungkan Firman Tuhan
Bagi sebagian orang, jalan kaki hanyalah aktivitas fisik. Namun bagi saya, jalan kaki sudah menjadi hobi yang lebih dari sekadar gerak tubuh. Di dalam langkah-langkah sederhana itu, saya menemukan ruang sunyi untuk merenungkan firman Tuhan, berpikir jernih, dan berdialog dengan diri sendiri tanpa banyak gangguan.
Jalan kaki memberi saya waktu sendiri. Saat tubuh bergerak pelan dan ritme langkah stabil, pikiran justru menjadi lebih fokus. Di momen seperti inilah ayat-ayat firman Tuhan tidak hanya dibaca, tetapi direnungkan secara pribadi dan jujur.
Sering kali saya membawa satu ayat dalam pikiran, lalu membiarkannya “berjalan” bersama langkah kaki. Saya merenungkan maknanya, penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, serta pergumulan pribadi yang berkaitan dengannya. Jalan kaki membantu saya tidak terburu-buru mencari jawaban, tetapi memberi ruang untuk memahami lebih dalam.
Di waktu tertentu, saya membuka Alkitab melalui ponsel. Kadang hanya untuk membaca ulang ayat, kadang untuk melihat konteksnya. Jalan kaki membuat proses ini terasa alami, bukan seperti kewajiban rohani, tetapi sebagai kebutuhan hati yang ingin mengerti.
Saat muncul pertanyaan atau pemikiran yang sulit dirumuskan sendiri, saya juga menggunakan aplikasi diskusi cepat seperti ChatGPT atau AI lainnya. Biasanya bukan untuk mencari jawaban instan, melainkan untuk berdialog, menguji pemahaman, atau melihat sudut pandang lain yang membantu saya berpikir lebih jernih.
Di momen lain, khotbah yang pernah disampaikan pendeta tiba-tiba terlintas di pikiran. Jalan kaki menjadi ruang refleksi untuk mengingat kembali pesan tersebut, lalu menimbang apakah firman itu sudah saya hidupi atau masih sebatas pengetahuan.
Dalam proses itu, saya sering bergulat dengan pikiran sendiri. Ada pertanyaan, koreksi, bahkan pergumulan batin. Jalan kaki memberi ruang aman untuk berpikir tanpa harus langsung menyimpulkan apa pun. Saya belajar bahwa iman yang sehat tidak takut bertanya, tetapi berani mencari dengan hati yang rendah.
Bagi saya, jalan kaki sebagai hobi bukan hanya soal menjaga tubuh tetap aktif, tetapi juga menjaga pikiran dan iman tetap hidup. Dengan Alkitab di ponsel dan bantuan diskusi cepat dari teknologi, saya tetap belajar menempatkan firman Tuhan sebagai pusat, bukan sekadar informasi, tetapi sebagai pedoman hidup.
Dalam langkah-langkah sederhana dan waktu sendiri, saya belajar bahwa Tuhan bisa berbicara melalui keheningan, perenungan, dan proses berpikir yang jujur. Jalan kaki pun menjadi ruang perjumpaan yang sederhana, tetapi bermakna.

Komentar