Sepulang Kantor, Jalan Malam, dan Firman yang Jadi Pelita
Sepulang kantor, setelah ritme 8–6 yang padat, saya tidak langsung rebahan. Saya pilih jalan malam. Udara lebih dingin. Jalanan lebih sepi. Langit lebih gelap. Dan justru di suasana seperti itu, kepala saya mulai berbicara lebih keras. Siang hari saya sibuk menyelesaikan tugas. Malam hari saya mulai menghitung hidup. Tentang pekerjaan. Tentang masa depan. Tentang uang. Tentang apakah saya sudah cukup atau belum. Gelap di Luar, Ribut di Dalam Malam itu tenang, tapi pikiran saya tidak. Semakin jauh saya melangkah, semakin banyak pertanyaan muncul. Kadang rasional, kadang berlebihan. Saya bisa merasa tertinggal. Saya bisa merasa kurang. Saya bisa mendorong diri sendiri terlalu keras. Dan kalau dibiarkan, pikiran itu seperti jalan tanpa lampu. Di Tengah Jalan, Saya Berhenti Biasanya di satu titik, ketika kepala sudah terlalu penuh, saya berhenti sebentar. Saya ambil HP. Saya buka aplikasi Alkitab. Bukan karena suasananya sudah khusyuk. Just...