Sepulang Kantor, Jalan Malam, dan Firman yang Jadi Pelita

Sepulang kantor, setelah ritme 8–6 yang padat, saya tidak langsung rebahan.

Saya pilih jalan malam.

Udara lebih dingin.
Jalanan lebih sepi.
Langit lebih gelap.

Dan justru di suasana seperti itu, kepala saya mulai berbicara lebih keras.

Siang hari saya sibuk menyelesaikan tugas.
Malam hari saya mulai menghitung hidup.

Tentang pekerjaan.
Tentang masa depan.
Tentang uang.
Tentang apakah saya sudah cukup atau belum.

Gelap di Luar, Ribut di Dalam

Malam itu tenang, tapi pikiran saya tidak.

Semakin jauh saya melangkah, semakin banyak pertanyaan muncul. Kadang rasional, kadang berlebihan.

Saya bisa merasa tertinggal.
Saya bisa merasa kurang.
Saya bisa mendorong diri sendiri terlalu keras.

Dan kalau dibiarkan, pikiran itu seperti jalan tanpa lampu.

Di Tengah Jalan, Saya Berhenti

Biasanya di satu titik, ketika kepala sudah terlalu penuh, saya berhenti sebentar.

Saya ambil HP.
Saya buka aplikasi Alkitab.

Bukan karena suasananya sudah khusyuk.
Justru karena suasana hati sedang kacau.

Dan di momen seperti itu, ayat ini terasa sangat nyata:

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”
— Mazmur 119:105

Saya Baru Mengerti Arti “Pelita”

Pelita itu kecil.

Bukan lampu besar yang menerangi seluruh masa depan.
Bukan sorot yang membuat semuanya jelas.

Pelita hanya cukup untuk beberapa langkah di depan.

Dan itu yang saya butuhkan.

Saya tidak perlu tahu sepuluh tahun ke depan malam itu.
Saya hanya perlu tahu langkah saya hari ini tidak salah arah.

Firman Itu Mengkalibrasi Pikiran

Setelah membaca beberapa ayat, saya tidak tiba-tiba jadi tanpa masalah.

Target tetap ada.
Tanggung jawab tetap sama.
Masa depan tetap harus dipikirkan.

Tapi cara saya melihatnya berubah.

Firman seperti menarik garis lurus di tengah pikiran yang bengkok.

Ia mengingatkan saya bahwa nilai hidup saya bukan hanya dari pencapaian.
Ia menenangkan ketakutan yang berlebihan.
Ia meredam ambisi yang terlalu liar.

Saya lanjut berjalan lagi.

Gelapnya masih sama.
Tapi arah saya lebih jelas.

Penutup

Sepulang kantor, di udara malam yang dingin dan jalanan yang sepi, saya belajar satu hal:

Hidup ini memang berjalan terus.
Tapi tanpa terang, langkah bisa melenceng.

Dan di antara lampu jalan yang redup,
firman yang kecil itu cukup.

Cukup untuk menjaga kaki saya tetap di jalur.
Cukup untuk memastikan saya tidak hanya bergerak…
tapi bergerak ke arah yang benar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Training Drills Top Eleven per Posisi

Tokopedia.com - Solusi Belanja Cepat dan Hemat untuk Kebutuhan Sehari-hari Anda

Mengapa Saya Memutuskan Tidak Menjadi Platinum Buyer di Tokopedia