Lima Ribu Ini Terlalu Ribet untuk Disimpan

Kemarin habis setup pelayanan, ada rekan kerja bilang,
“Bro, tolong beli air putih Vit satu kardus ya.”

Gas.
Aku dikasih uang 100 ribu dari ibu gembala. Pergilah aku ke Alfamart, beli 1 karton air Vit, sekalian minta print invoice — biar rapi.

Bayar.
Terima kembalian.
Aku lihat sekilas: ada 50 ribuan, 10 ribuan, dan receh. Kelihatan pas. Masuk kantong.
Namanya juga cowok, asal kelihatan bener, lanjut.

Balik ke gereja.
Sampai sana, doa pekerja dulu, karena pelayanan sudah mepet.

Habis doa, aku langsung inget satu hal:
uang kembalian ini tanggung jawabku.

Aku hitung ulang.
Kok… gede?

Aku cek invoice.
Tertulis kembalian 63.700, dibuletin jadi 63.500 (biasa lah, donasi receh ala minimarket).

Tapi pas aku keluarin uang dari kantong…
ADA KELEBIHAN 5.000.

Di titik ini aku benar-benar yakin:
“Wah, jangan-jangan ada uang yang nyasar.”

Tanpa drama dan tanpa nuduh siapa-siapa, aku balikin dulu uang dan nota ke ibu gembala.
Habis itu aku balik lagi ke kasir Alfanya.

Aku serahin uang 5.000 itu.
Dia terima.
Wajahnya kelihatan kaget, nggak nyangka, lalu ikut seneng.

Aku juga seneng.
Bukan karena duit, tapi karena hati lega.

Pelayanan mau mulai.
Tinggal 5 menit sebelum countdown.

Di situ baru kebuka ingatan lama:
“Oh iya… tadi aku mau jajan.”

Sebelum ke gereja, aku niat beli gemblong 2 biji.
Harganya 5.000.
Tapi gemblongnya habis, jadi uangnya aku masukin ke saku.

Artinya?
👉 Uang itu memang uangku sendiri. Bukan salah kasir. Bukan salah siapa-siapa.

Aku sempat mikir.
Tapi pelayanan jalan terus. Dan aku sadar:

Mau uang itu kepakai buat gemblong,
atau kepakai buat balikin ke kasir,
ujung-ujungnya uang itu memang bukan buat aku simpan.

Kasir juga manusia.
Dan aku juga manusia.
Sama-sama bisa salah, tapi sama-sama belajar soal kejujuran.


Penutup

“Barangsiapa setia dalam perkara kecil, ia setia juga dalam perkara besar.”
(Lukas 16:10)

Bukan soal 5.000 rupiah.
Tapi soal tanggung jawab dan hati yang memilih jujur, bahkan saat kita merasa sudah yakin benar.

Uang itu hamba yang baik,
tapi tuan yang jahat.

Dan hari itu,
aku nggak dapet gemblong,
tapi dapet damai sejahtera.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Training Drills Top Eleven per Posisi

Tokopedia.com - Solusi Belanja Cepat dan Hemat untuk Kebutuhan Sehari-hari Anda

Mengapa Saya Memutuskan Tidak Menjadi Platinum Buyer di Tokopedia